Oceanography: ‘Ocean’ dan ‘graphy’

Ocean yang
berarti laut dan graphy yang berarti penggambaran, ketika kedua kata tersebut dikombinasikan
menjadi satu, menjadi oceanography–atau oseanografi dalam penulisan
bahasa Indonesia yang baik–maka dapat diartikan menjadi sebuah bidang
keilmuan yang mendiskripsikan laut dalam bentuk grafis dan menjabarkan fenomena
alam yang terjadi di balik grafis yang ditampilkan
.

– Landscape Selat Bosporus, Turki. [sumber: dokumentasi pribadi]

Jadi, berbicara soal oceanography
tidak terlepas dari
grafis atau gambar. Dan grafis yang ditampilkan tidak terbatas pada template kurva yang ada di Microsoft Excel tapi bisa berbentuk animasi model dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D) hingga model fisik atau replika. Dengan adanya perkembangan ilmu ini, laut yang begitu luas (70% dari bumi dan 70% dari wilayah tanah air tercinta,
Indonesia) dan
sangat penuh teka-teki dapat kita jelaskan dengan grafis-grafis yang memudahkan menjelaskan fenomena yang terjadi.

Saat menggunakan mesin pencari semacam Google, dan kemudian menuliskan kata “laut”, yang akan muncul adalah… biru dan biru,
landscape nan indah yang memperlihatkan cantiknya sebuah permukaan laut
dengan gemericik ombak, pulau-pulau kecil di seberang pantai, matahari terbenam, atau
kapal yang berlayar dengan syahdunya. Namun, masih banyak
teka-teki yang perlu dijelaskan untuk bisa menjelaskan semua proses yang
terjadi dari permukaan hingga lapisan bumi di bawah laut
yang tersimpan rapi dengan
keindahannya.

Kemudian, perbedaan karakter laut di tiap daerah mempengaruhi proses-proses alamiah yang terjadi di daerah tersebut. Ini menambah motivasi kita untuk terus mengeksplorasi laut lebih “dalam”. Motivasi inilah yang memacu
perkembangan sains dan teknologi untuk membantu proses eksplorasi dan pemahaman tentang oceanography.

Animasi model fluida (cairan, misalnya air laut) 2D

[sumber: dokumentasi pribadi]

Luasnya laut, menggambarkan luasnya cakupan dari oceanography, mulai dari aspek fisik (ilmu fisika),
biologis (ilmu biologi), kimiawi (ilmu kimia), hingga geologis (ilmu geologi). Contoh karya-karya

seorang oceanographer antara lain memodelkan gelombang Tsunami, seperti yang terjadi di Aceh pada tahun 2004, membuat web
informatif seperti ini, memetakan sebaran ikan salmon–yang biasa kita santap dalam bentuk sushi–kajian dinamika dasar laut untuk
pembangunan pelabuhan, serta mendeteksi sebaran potensi minyak dan gas bumi bawah laut.

Cakupan ilmu yang luas tersebut, tidak juga membendung
luasnya cara yang digunakan dalam menggali informasi tersebut, mulai dari tahap
pengambilan data hingga menampilkan grafis suatu wilayah kajian laut. Pilihan kegiatan yang dapat dilakukan seperti survey lapangan, dengan kapal mengarungi
samudera hingga melakukan diving di tengah laut beserta sejuta kejutannya, bekerja di dalam lab mendeteksi
keberadaan biota atau kandungan kimiawi dengan mikroskop dan alat penguji lainnya; hingga menjadi
ahli pemprograman duduk di belakang layar komputer untuk menghasilkan
animasi-animasi termuktakhir membuat jurusan ini sangat dinamis dan
inklusif
.

– Sebelum eksekursi lapangan dengan kapal
Callista di Southampton Bay, UK
[sumber: Annisa Aulia Handika/oceanographer
@aahandika]

Lapangan
pekerjaan yang dapat dilakukan pun beragam
, mulai dari bekerja di lapangan sebagai surveyor
ataupun di balik meja kantor menjadi seorang konsultan di perusahaan swasta
atau pemerintah (BIG, KKP, atau BPOL); bekerja untuk militer (Dishidros
TNI-AL); hingga menjadi seorang researcher baik untuk sektor industri,
pemerintah, hingga institusi pendidikan. Penelitian di bidang inipun bisa disesuaikan sesuai minat, mulai dari soal lingkungan, energi terbarukan, kebencanaan, industri minyak dan gas bumi, hingga perubahan
iklim.

Begitu luas dan dalamnya cakupan ilmu ini, seluas dan sedalam lautan itu
sendiri, serta potensi yang tidak pernah ada habisnya
, membuat
saya tetap berkarya dan tak pernah jenuh untuk terus mengeksplorasi kekayaannya
yang tidak terbatas, untuk menjadi oceanographer yang tangguh dan kuat bagaikan karang.

– Scientific diving untuk mengambil
sampel terumbu karang
[sumber: Dimas Sokowati/oceanographer & scientific
driver @dimasokowati]

– Pemasangan alat pembaca arus laut [sumber: Dimas Sokowati – scientific
driver/oceanographer @dimasokowati]

Terakhir, The Life Aquatic with Steve Zissou (2004),
sebuah film yang dikemas dengan komedi, bisa teman-teman jadikan referensi tentang kehidupan seorang oceanographer.
But believe me it would be more than that.

Do
what you love, and love what you do. You are the one that would lead yourself
to the deepest depth of the ocean and enjoy the beauty.

(*)

Hugo Samudra Putuhena

Oceanographer/Marine
Geoscientist

Mahasiswa doktoral (S-3), University of Manchester

Oseanografi
ITB, 2009




LEAVE A REPLY

Your email address will not be published.


Comment


Name

Email

Url