Jurusan Kuliah: Hidup Lo Empat tahun ke Depan

Judulnya agak berat ya? Sebenarnya
di sini gue cuma mau ceritain pengalaman
dari pra-UN sampai akhirnya gue berhasil masuk universitas yang gue dambakan
serta program studi alias jurusan yang
(insya Allah) cocok buat kehidupan gue nantinya. 

Nah jadi, gue mulai cerita
dari pas gue SMA. Pas SMA, penjurusan, dan nama gue tertulis di jurusan IPA.
Tapi ada satu magnet yang menarik gue ke IPS, yaitu keinginan memilih prodi
Hubungan internasional. Tapi lagi-lagi–pasti beberapa dari kalian pernah
mengalami ini—orang tua gue menyarankan agar tetap di jurusan IPA. Debat, tapi
akhirnya gue pun mengalah dan menjalankan kehidupan di IPA.
Dan… dor! The atmosphere isn’t for me. 

Sampai
suatu saat, setelah menjalani minggu ketiga gue di kelas IPA, seorang
guru matematika, sebut saja Pak Pikiran bertanya-tanya apa satu kelas yakin mau
masuk IPA. Gue, melamun karena merasa dirugikan, ditegur. Dengan ringannya
beliau nebak tepat sasaran, jiwa dan pikiran gue ga ada sama sekali di kelas
itu. Gue kaget, tapi nyimak. Akhirnya sampai akhir dia ngomong sama gue dan
menyarankan untuk mempertimbangkan lagi mumpung masih awal.

Percaya
atau enggak, gue memberanikan diri untuk berdebat lagi sama orang tua dan
akhirnya ibu gue mengiyakan (setengah hati). Setelah itu, gue ngomong sendiri
ke Kesiswaan (orang tua gue super sibuk,
hanya menitipkan surat bertanda tangan menyetujui). Hampir gagal, karena 3
minggu bukan waktu yang sebentar dan mengurus data itu susah. Gue memohon-mohon
demi dapat Hubungan Internasional (HI) di Universitas
Indonesia melalui jalur undangan. Dan… YAY! Berhasil dan akhirnya gue menjadi
anak baru di IPS. 

Benar saja, this is
it. This is the atmosphere I’ve been looking for.
 Gue juga
berhasil membuktikan ke orang tua gue dengan meraih ranking 2 di kelas (cie)
dan terus mendapat nilai memuaskan. Sampai suatu saat ibu gue yang lagi
ada masalah di kantor berucap, “Cha, kamu ambil jurusan keuangan
(akuntansi) aja nanti kuliah biar bisa bantu usaha mama”. Dor! Ada
petasan meledak di kepala. Bukan kembang api ya, petasan. Tau petasan kan?

Menanggapi permintaan nyokap,
gue akhirnya bilang sama teman-teman terdeket gue. Satu suara, satu
pendapat. “Jalanin lah, lo kan bisa juga akuntansi.” Dan
memang, gue gak secinta itu dengan program studi HI. Cuma tertarik aja. Ya sudah,
gue membelokkan arah ke Akuntansi. Gue mulai fokus. Baru kali ini bisa sefokus
ini akan sesuatu. Oke, lalu gue menjalani kehidupan SMA yang super labil menyenangkan itu. 

Sampai saat mau UN, gue
ngikutin euforia pra-UN, ambisius bimbel. Tapi ternyata ambisius gue ga
bertahan lama. Bahkan saat mendekati UN, gue nyantai sedikit belajar sambil doa-doa. Lagi-lagi, gue harus siap
jika nanti akan
ada aja yang bikin goyah, entah itu temen kalian yang milih prodi yang sama dan
ranking paralelnya di atas kalian, teman deket kalian,
keluarga, dsb. Tapi, gue
saranin satu hal: luruskan niat.

Tanya
sama diri kalian, “Beneran mau ini?”

Empat
tahun ke depan bakal ketemu si dia
terus, nggak apa-apa? Kerjapun
(kalau sesuai) bakal ngurusin si dia terus, yakin? Kalian akan berjuang
sendiri, jalanin sendiri, rasakan sendiri. Pendapat orang hanya untuk
dipertimbangkan, bukan harus dilakukan. 

Selain itu, kemungkinan “Duh
universitas A tinggi banget ga mungkin bisa deh,
seriusan, lo ga mau pilih cadangan swasta?” Ini
pertanyaan akan terngiang-ngiang kalau kalian
punya temen yang sangat perhatian dan juga labil. Dan satu modal gue waktu itu–entah
dapet saran dari siapa—gue milih satu prodi di satu universitas.
Walaupun tersedia dua kolom tersisa nantinya, gue ingin menunjukkan seberapa
besar keinginan gue akan prodi itu di universitas terkait. Tapi kembali lagi ke
diri lo. Gue gak melarang lo ambil dua bahkan tiga prodi. Saran gue fokus akan
apa yang benar-benar lo mau, lalu kejar. Seberapa jauh, seberapa tinggi.

Lo harus
percaya lo bisa. Ya emang ada kemungkinan gagal, tapi ada kemungkinan sukses
juga kan?

Oh, iya.
Karena gue milih akuntansi UI, yang punya jalur paralel, gue mencadangkan nama
gue di jalur tersebut. Karena memang, masuk akuntansi UI itu susah. Tahun-tahun
di atas gue, dari SMA gue cuma keterima
satu orang. Bayangin, SATU. Dan yang mau itu ada 5 orang kalo gue ngga salah
(berarti benar, susah). Nggak ada
salahnya mencadangkan, entah di universitas yang sama atau berbeda. Lagi-lagi,
lo harus memikirkan kemungkinan yang akan terjadi baik itu kemungkinan terburuk
atau terbaik. 

Lalu gue jalanin UN: deg-degannya,
stresnya, asyik banget. Percaya atau nggak nanti
kalian bakal kangen momen itu beserta perasaan yang kalian rasain detik-detik
sebelum UN. UN selesai, gue digantung sekitar satu bulan karena ikut jalur
SNMPTN. 

Saat
pengumuman SNMPTN, gue menangis. Tenang, menangis bahagia. Percaya atau nggak, gue
sampai refresh website berkali-kali,
memasukkan nomor UN berkali-kali, hasil yang keluar tetap sama. “Selamat,
anda …” dengan unsur warna hijau, bukan merah (iyalah). 

Jadi, kalau gue
ringkasin, untuk memilih program studi atau jurusan, lo harus bener-bener tau
lo mau apa. Hidup lo mau kayak gimana? Kalau gue memilih untuk menjadi seorang
akuntan, yang akan selalu ketemu angka beserta data keuangan lainnya, dan eneg
atau nggak gue tetap akan jalanin karena itu jalan
yang gue pilih. 

Luruskan
niat, cari tahu apa yang bisa jadi motivasi lo untuk
menggapai itu. Terakhir, lewat jalur apapun nanti lo masuk
ke suatu universitas, itu rejeki lo. Lo harus percaya rencana Tuhan. Tapi
jangan pasrah, tetep usaha. Semangat!

(*)

Chairunnisya Wati

Akuntansi 2015, Universitas Indonesia




LEAVE A REPLY

Your email address will not be published.


Comment


Name

Email

Url