4 Tahun Belajar Pencitraan

Mari kita bermain sebut merek.

Kalau saya bilang, “Air mineral!” Merek apa yang terlintas dalam benak kalian? Bagaimana dengan mie instan? Pompa air? Pasta gigi? Kopi? Biskuit? Deterjen?

Lalu cocokkan dengan jawaban saya: Aqua, IndoMie, Sanyo, Pepsodent, Kapal Api, Roma, Rinso.

Sekarang kita ganti permainan, mari bermain sebut tokoh. Siapa tokoh pertama kali yang kalian pikirkan ketika saya sebut pesawat? Blusukan? Facebook?

Semua akan menjawab: B.J. Habibie, Jokowi, dan Mark Zuckerberg.

Ketika main sebut merek dan sebut tokoh, kalian menyebutkan jawaban yang hampir semua orang pasti menjawab itu. Kok bisa gitu sih? Nah, di jurusan saya, kita mempelajari bagaimana caranya sebuah merek, tokoh, dan karakter bisa nempel banget di masyarakat.

Jurusan apa sih?

Public Relations! Atau yang sering dibahasakan dengan Hubungan Masyarakat Di jurusan ini, bukan cuma merek dagang dan karakter orang yang bisa kamu ciptakan, tapi semua hal yang berkaitan dengan persepsi dan reputasi adalah tanggung jawab anak-anak PR (baca: pi-ar). Kalau kamu familiar dengan kata “pencitraan”, maka selama kuliah, kamu akan belajar segala hal tentang pencitraan. Which is good, karena pencitraan beda sama pembohongan publik.

Di jurusan PR juga akan menuntut kamu bisa paham gesture orang lain, bisa mempengaruhi orang lain lewat kata-kata, bisa negosiasi, tampil menarik di atas panggung dan juga di balik layar kaca. Semua itu karena PR berada di bawah bidang studi Ilmu Komunikasi.

Kerjaan yang bersenang-senang seperti bikin event, campaign, press conference, launching product, branding dan segala proses kreatif lainnya dikerjakan oleh mereka yang bergelut di dunia PR. Asik yah kuliahnya, kayak main-main.

Eits, tunggu dulu… kalau perusahaan lagi krisis, gonjang-ganjing kayak gempa bumi, bangkrut, karyawan diberhentikan, pimpinan korupsi, dan hal-hal krisis lainnya, tugas para praktisi PR lah buat menjelaskan semuanya secara ‘manis’ ke khalayak ramai. Ingat, secara manis loh ya, bukan berbohong. Hehe….

Buat yang suka jadi pusat perhatian, jurusan PR bakal ngasih kamu panggung buat mengeksplor kualitas diri. Mulai dari jadi MC, pengisi acara, sampai juru bicara presiden. Buat yang ngerasa dirinya introvert, panik di depan orang-orang, jangan khawatir, PR pun siap menampung kamu. Kamu bisa berkutat dengan pembuatan strategi, pembuatan berita dan masih banyak lagi.

Kalau kamu mau jadi wartawan, jangan masuk PR. Tapi, masuklah jurusan jurnalistik. Karena meski masih di bawah bidang ilmu komunikasi, pelajaran yang diambil amat berbeda.

Setelah kuliah di jurusan PR, saya jadi sangat membenci konotasi negatif tentang pencitraan. Setiap ada yang bilang, “Dasar lu, pencitraan!” rasanya ingin lempar sepatu dan bilang, “Hei… gue kuliah 4 tahun yang intinya belajar pencitraan!” Hahaha. Ini dia yang masih salah kaprah di masyarakat awam. Pencitraan masih punya konotasi negatif yaitu kebohongan publik. Sederhananya, pencitraan itu tentang menampilkan sisi-sisi terbaik yang kita punya.

Kesalahpahaman yang akan kamu dengar adalah saat kamu bilang kuliah di jurusan ilmu komunikasi, akan ada orang yang komentar, “Ooh kerjanya nanti di Telkom ya?” Saat kamu bilang ambil jurusan Hubungan Masyarakat (Humas alias PR), orang banyak bilang, “Ooh kerjanya nanti angkat telepon ya, di front office gitu?” Ada juga beberapa stereotip lain yang akan sering didengar, seperti anak PR cantik-cantik, suka dugem lah, cepat lulus lah. Big no! Jangan pukul rata karena semua tergantung orangnya.

By the way, dari obrolan di atas sudah terbayang tentang jurusan saya?

(*)

Mutia Adia Risjad | @mutiiadia

Public Relations, Unpad 2012

mutiaadia94@gmail.com

www.mutiiadia.tumblr.com




LEAVE A REPLY

Your email address will not be published.


Comment


Name

Email

Url